Showing posts with label Writings. Show all posts
Showing posts with label Writings. Show all posts

Thursday, 7 April 2016

On behalf of the world that I own

On behalf of the world that I own, I would like to inform that I have risked the inquisition to sneak access of human cadavers againts the edicts of the world and rule I built. There is no power to deny such a notion of taboo and lurking beneath the surface when you first encounter a beautiful feelings towards another cadaver that has started with a turmoil which I explored strangely delightful yet pulchritude, in such an imperfect way I used to see.

I see cadavers in such a poetic way, I see ghastly things allures.


Needless to say you and I both no cadavers, not yet, but as a piece of meat who operates the world by mind and beeping muscles, I prefer to speak on my language, a tortuous way to convey the loath and antagony towards something I opposed and I found poor in taste, again I must say, on behalf my own world.


Sincerely strange,
NGT

celestial coordinate system

Reluctantly I admit that I began to give credence to constellation ever since you beamed out the thimblesworth of milky moon.

Monday, 4 April 2016

Mammals

I dreamt of having babies and raise them to preserves cadaver and sends me to a fascinanting demise.

Tuesday, 29 March 2016

Nitwit! Blubber! Oddment! Tweak!


Dear Frizzy Hair,

Hope this card finds you well when you are not attired with sleeping blindfolds like this time.
I would like to say thank you for travelling with me, I was all peculiarly remarkably fun, a quite a lot things I never thought of. Though, I strangely object to the noisy behaviour of yours, snoring.

In few days I will be away for two months, during that time, we might lose our propinquity and we might become stranger as before. Yet, I take an odd delight to see wrinkles on your face increased.

Here I consider to disclaim this to be a quite nice in letter, enclosed in this Momoko Sakura's illustrated card. Please accept my sincere apologies of these poor handwritings on the train and my unfavourable silly immature chromosome that annoys you so often.

Nitwit! Blubber! Oddment! Tweak! epoch entirely occur stranger than fiction. Speak to you through wee language.


Sincerely strange,

NGT

Thursday, 11 February 2016

Fallacy

Searched the globe for impossible creatures for years and is very likely to be a delusion of a mankind.

In dread I said to myself in doubt:
To the inferno with these silver clouds of the unattainable

Universe is such an elusive quarry.

Wednesday, 30 December 2015

(still) unsolved conundrum

I remember the sea salt water
I remember the sand and the sunburnt
I remember the hazy sunday
I remember now I had forgotten what solicitude made of

Wednesday, 15 July 2015

At your peril

Thy breath stinks with eating toasted cheese
Thy wit's as thick as tewsbury mustard

Feeling like corpse because doctor put some fabrics in my nostril 

The pain in the head at your peril

I wish to grow strawberry seeds on your face

Monday, 21 November 2011

Dongeng Untuk Si Mata Susu #MATAPEREMPUAN2011

the abandoned childhood viewmaster reel


Dongeng Untuk Si Mata Susu

Peeping through the hole

Menatap keangkuhan kehidupan kota besar, tempat kesenjangan sosial muncul secara meluas. Masyarakat menengah ke atas dianggap memiliki kehidupan flamboyan, dan terbentuk sebagai citra peradaban modern yang menjadi impian bagi masyarakat kelas lainnya.  Kesibukan muncul dalam kehidupan masyarakatnya, kompetisi yang tak mengenal ampun bagi yang lemah. Tuntutan hidup yang menjadi budak dari nafsu hedonisme yang mendorong segelintir masyarakat kota besar menjadi makhluk sosial namun individualis dalam waktu yang bersamaan.
Semakin modern pola hidup suatu masyarakat, cenderung semakin  berkurang pula kontak secara fisik dan kehangatan sesama manusia. Gaya hidup super sibuk yang penuh tekanan seakan-akan menyihir warga kota-kota besar. Tak heran, Jakarta pun menjadi sarang bagi manusia-manusia yang kesepian. Jika saja masyarakat perkotaan memiliki pola hidup yang lebih sederhana, mungkin kasus-kasus kesepian akan jarang terjadi. Masing-masing individu mempunyai waktu untuk memperhatikan kebutuhan satu sama lainnya yang dapat memperkuat tali emosional diantara mereka.
Dalam kenyataan, hidup di kota besar seperti Jakarta, inversi dan substitusi pola kehidupan akan terus menerus terjadi sebagaimana waktu sebagai citra hakiki masyarakat kota. Sama halnya seperti perubahan gaya hidup berkeluarga sebagai manifestasi dari perkembangan zaman.

*
Gaya hidup di kota besar masa kini adalah di mana orangtua bekerja dan menitipkan anak-anak mereka di bawah asuhan orang lain. Semua orang, baik sang Ayah maupun sang Ibu, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing sebagai perwujudan dari harapan untuk kehidupan yang dianggap lebih baik.
Kesibukan orang tua dengan kariernya secara tidak langsung membangun tembok tak kasat-mata antara mereka dengan anak-anaknya. Kontak fisik pun berkurang karena anak-anak tidak lagi diasuh fisik secara langsung oleh orang tuanya. Sudah ada sosok lain yang menggantikan peran dalam mengurus. Pemberian mainan-mainan menjadi imbal balik orangtua atas ketidakhadiran mereka dalam proses tumbuh-kembang anak.

Fungsi gadget mutakhir digunakan untuk menjalin komunikasi, guna mendekatkan yang jauh, namun kenyataannya lebih sering menjauhkan yang dekat. Ketika pulang ke rumah, kesibukan orangtua yang tak terkekang oleh waktu, membuat mereka kerap kali terus berinteraksi dengan gadget-nya ketimbang dengan anak-anak mereka.

**

 “Who are you? ” said the Caterpillar. This was not an encouraging opening for a conversation. Alice replied, rather shyly, “I—I hardly know, sir, just at present—at least I know who I was when I got up this morning, but I think I must have been changed several times since then.”
“What do you mean by that?” said the Caterpillar sternly. “Explain yourself!”
“I can’t explain myself, I’m afraid, sir,” said Alice, “because I’m not myself, you see.”
“I don’t see,” said the Caterpillar.
“I’m afraid I can’t put it more clearly,” Alice replied very politely, “for I can’t understand it myself to begin with; and being so many different sizes in a day is very confusing.”
“It isn’t,” said the Caterpillar.
“Well, perhaps you haven’t found it so yet,” said Alice; “but when you have to turn into a chrysalis—you will some day, you know—and then after that into a butterfly, I should think you’ll feel it a little queer, won’t you?”
“Not a bit,” said the Caterpillar.
“Well, perhaps your feelings may be different,” said Alice; “all I know is, it would feel very queer to me.”
“You!” said the Caterpillar contemptuously. “Who are you?”

Petikan di atas diambil dari novel Alice’s Adventures in Wonderland karangan Lewis Carroll. Alice dilemparkan ke dalam imajinasi dan dipaksa untuk menciptakan suatu identitas baru dalam rangka mengatasi situasi barunya. Alice yang kehilangan sosok panutan dalam petualangannya, hanya bisa bertempur dengan dirinya sendiri untuk mencari identitas. Seperti halnya Alice, anak-anak yang tidak mendapat panutan dari orang-orang tuanya, dalam hal ini adalah orangtuanya sendiri, dalam mencari kasih sayang akan berperang dalam dirinya. Teman khayalan adalah salah satu interpretasi dari pencarian kasih sayang.
Kebutuhan paling mendasar dalam hidup manusia selain fisiologis dan keamanan adalah kasih sayang.[1] Ketika dihadapkan dengan situasi jarang bertemu dengan orang tua, maka muncul kecenderungan anak untuk memiliki kepercayaan diri yang rendah. Karenanya, sentuhan menjadi penting dalam hubungan dengan yang tercinta.[2] Sama halnya seperti dongeng sebelum tidur yang menghangatkan jiwa apabila dibandingkan dengan tumpukan mainan yang dingin.

***
“I paint what cannot be photographed, that which comes from dreams, or from unconscious drive. I photograph the things that I do not wish to paint, the things which already have an existence”  (Man Ray, Fotografer, 1981).

Fotografi di sini tidak sekadar berfungsi sebagai jendela realitas, Melainkan, sebagai wahana yang menjadi opini visual pribadi terhadap suatu keadaan. Dalam hal ini keadaan itu adalah realitas kota. Seperti halnya yang dilakukan oleh Frida Kahlo, seorang pelukis wanita dari Meksiko, dalam lukisan-lukisannya. Ia mengalihkan catatan-catatan hariannya menjadi lukisan-lukisan yang penuh dengan simbol-simbol. Sebagaimana dengan Frida Kahlo, foto-foto yang ada disini juga menggunakan pendekatan subjektif. Lebih jelas lagi, medium fotografi dalam karya ini digunakan sebagai cermin pribadi. Seperti mendengarkan lagu karangan Joanna Newsom[3], foto-foto disini tersusun seperti lirik-liriknya yang mengalun seperti dongeng tetapi memiliki dendam dan amarah.
Ibarat anak ayam yang tak bisa kehilangan induknya, anak-anak divisualisasikan sebagai sosok lemah yang terombang-ambing tanpa bimbingan nyata dari orang tua. Plastik di sini digunakan sebagai metafora urban yang diwakilkan oleh sosok boneka-boneka Barbie, sebagai citra dari kesempurnaan hidup yang dihadirkan karena mewakili perkara kehidupan di kota besar. Kesempurnaan yang teralienasi oleh kehampaan, tanpa kasih sayang dan afeksi.
Suatu kehampaan yang terselubung, terlihat dari foto pertama yang berjudul ‘Sprout and the Bean’ seolah tampak sebagai kehidupan lazim. Foto pertama tidak menyadarkan kita untuk mendengar jeritan-jeritan yang tak terdengar, sebelum lebih lanjut mendekatkan mata kita untuk melihat foto-foto yang tercetak di dalam View-Master[4]. Diperlukan kedekatan untuk menerobos hal-hal yang sublim.
Merangkai apa yang telah diseksamai, atas fenomena yang tidak lagi menjadi anomali di kehidupan kota besar, karya ini hadir untuk menyimak lebih dalam kehidupan anak-anak dan kaitannya dengan pola pengasuhan anak di kota besar. Ia bukan sekadar gambar tercetak, tetapi berusaha memperlihatkan suatu ironi. Keindahan visual tidak selalu berkaitan dengan kebahagiaan.


1 Abraham H. Maslow, Toward a Psychology of Being, second edition (New York: D. Van Nostrad, 1968), hlm. 25.
2 Oscar Motuloh, Yang Tercinta (Jakarta: Yayasan dan Pengembangan Budaya Visual Oktagon, 2005), hlm. 96.
3 Joanna Newsom ( 18 Januari 1982) seorang penyanyi dan pemain harpa asal Amerika Serikat.
4 View-Master yang seringkali dianggap mainan anak-anak, itu awalnya dipasarkan sebagai atraksi pada turis-turis. 


other review:
http://satulingkar.com/detail/read/8/171/dongeng-boneka-untuk-jakarta

Saturday, 3 April 2010

Natural Glue

I wonder if someone needs my nasal fluid, they can have it for free.
I have unlimited amount of nasal fluid, my nose is such productive these days and I'm running out of tissue. Please let me know if you know aliens, witches, or anybody who needs natural glue.